Metaverse dan Segala Kemewahannya, Apakah Aman dari Semua Ancaman dan Risiko?

1 April 2022, 16:47

AKURAT.CO Istilah Metaverse menjadi topik cukup panas saat ini. Semakin banyak merek berusaha untuk menaklukkan Metaverse menggunakan berbagai format integrasi. Misalnya, Gucci menciptakan dunianya sendiri di metaverse Sandbox. Merek mewah ini telah mengumumkan bahwa mereka akan membeli tanah virtual di The Sandbox untuk mulai membangun dunianya.

Pada saat yang sama, restoran NFT pertama, the Flyfish Club, dibuka di New York. Pelanggan harus membeli kartu keanggotaan NFT untuk masuk ke dalamnya. Jumlah tempat di klub terbatas: pemilik telah mengeluarkan 2,7 ribu token, menyediakan entri untuk anggota reguler dan 385 token untuk tamu tingkat atas. Keanggotaan permanen akan dikenakan biaya sebesar 2,5 Ethereum, atau sedikit di atas USD 8,000 dolar, di mana para tamu dapat mengakses bar koktail, restoran, dan acara pribadi.

SoftBank Group Corp. menginvestasikan sebesar USD 150 juta dalam platform metaverse Korea Selatan yang telah mengumpulkan banyak pengguna wanita muda dengan menjual item high-fashion untuk avatar 3-D.

baca juga:

Mengingat tingkat promosi sensasionalnya, pasti akan ada efek ekonomi yang tak terelakkan. Menurut perkiraan VR dan AR PWC, teknologi ini dapat berdampak pada 23 juta pekerjaan pada tahun 2030. Hal ini, dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi sebesar USD 1,92 triliun. Salah satu alasannya adalah bahwa teknologi yang digunakan di Metaverse dapat meminimalkan kesenjangan antara teori dan praktik.

Melansir siaran pers Kaspersky, Jumat (1/4/2022) dalam perspektif korporasi Metaverse dapat berguna bagi pengguna untuk bermain dan menghabiskan waktu di ruang virtual. Pada saat yang sama, bisnis juga dapat memperoleh manfaat dari penggunaan ruang digital. Salah satu opsi yang paling jelas adalah meningkatkan pengalaman, pelatihan dan edukasi bagi karyawan.

Selain itu Metaverse memberikan pengalaman belajar interaktif baru dalam VR, AR, dan Mixed reality yang memungkinkan orang untuk belajar lebih cepat, menyimpan informasi dengan lebih baik, dan menikmati prosesnya. Sebuah studi PWC baru-baru ini dikhususkan untuk penggunaan VR untuk pengembangan soft skill menemukan karyawan yang terlatih dalam simulasi realitas virtual belajar empat kali lebih cepat daripada pelajar di kelas dan dua kali lebih cepat dari pelajar online.

Semua kompleksitas terkait teknologi baru ini membuat banyak orang bertanya-tanya apakah ada implikasi keamanan siber dan privasi. Namun, Kaspersky memandang pengguna kemungkinan masih memiliki isu terkait pengambilalihan akun, yang dapat menyebabkan pencurian identitas dan penipuan.

Masih dengan cara yang sama seperti penjahat siber memperoleh akses ke korespondensi pribadi atau perusahaan jika mereka meretas akun email melalui phishing, malware, atau isian kredensial, ditambah mereka juga bisa mendapatkan akses ke data pribadi yang disimpan di platform Metaverse pilihan. Dari perspektif perusahaan, ini masih berarti bahwa manusia adalah mata rantai terlemah dalam hal keamanan siber.

Sandra Lee, Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky menyebutkan beberapa hal mungkin berubah dan menjadi berbeda, menurutnya salah satu janji Metaverse adalah interoperabilitas. Misalnya, rumah yang dibeli di Decentraland dan sepasang sepatu kets virtual mewah dari OpenSea akan dapat diakses di semua platform, termasuk yang digunakan untuk pergi bekerja di kantor virtual.


https://akurat.co/metaverse-dan-segala-kemewahannya-apakah-aman-dari-semua-ancaman-dan-risiko

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Kab/Kota

Provinsi

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Event

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi