Novel Akmal Nasery tentang Buya Hamka Terbit, Royalti untuk Warga Mentawai

1 April 2022, 13:55

Sastrawan Akmal Nasery Basral meluncurkan novel kedua tentang Buya Hamka berjudul Serangkai Makna di Mihrab Ulama. (dok Istimewa)

Jakarta

Sastrawan Akmal Nasery Basral meluncurkan novel tentang kisah hidup Buya Hamka. Novel sejarah Buya Hamka diterbitkan dengan judul Serangkai Makna di Mihrab Ulama.

Serangkai Makna di Mihrab Ulama merupakan dwilogi kisah Buya Hamka yang bermana asli Prof Dr H Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1961). Buku pertama berjudul Setangkai Pena di Taman Pujangga terbit pada Maret 2020 persis sebelum pandemi COVID-19.

“Seluruh royalti dari dwilogi Buya Hamka ini, baik Setangkai Pena di Taman Pujangga maupun Serangkai Makna di Mihrab Ulama akan saya donasikan untuk program pengembangan masyarakat di Kepulauan Mentawai melalui program yang dijalankan ACT (Aksi Cepat Tanggap) Pusat,” ujar Akmal, Jumat (1/4/2022).

Dia mengatakan keputusan itu dibuat Buya Hamka penuh pengabdian hidupnya kepada masyarakat. Dia mengatakan pihak keluarga Buya Hamka menyetujui keputusan tersebut.

“Ini untuk menunjukkan bahwa sosok besar kaliber internasional seperti Buya sampai beliau sudah wafat dan fisiknya tak ada di antara masyarakat, kisah hidupnya masih bisa memberikan manfaat kepada umat. Alhamdulillah ahli waris keluarga Buya Hamka pun setuju dengan niat saya ini,” ucap mantan jurnalis ini.

GM Republika Penerbit, Syahruddin El Fikri, sangat mendukung Akmal menyumbangkan royalti buku untuk masyarakat di Kepulauan Mentawai.

“Itu niat yang bagus sekaligus membantu pembaca yang ingin berderma bagi sesama. Pembaca kisah Buya Hamka karya Uda Akmal bukan hanya mendapatkan bacaan inspiratif dan edukatif yang dikemas dalam story telling menarik, melainkan sekaligus juga membantu saudara-saudara kita di Mentawai melalui Program ACT. Untuk itu beli buku yang asli, jangan beli buku bajakan,” katanya.

Soal Novel Sejarah Buya Hamka

Buku pertama Setangkai Pena di Taman Pujangga mengisahkan kehidupan Buya Hamka sejak masa kanak-kanak sampai usia 30 tahun (1938) yang melontarkan namanya sebagai pujangga setelah menghasilkan dua karya besar Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Sedangkan Serangkai Makna di Mihrab Ulama mengisahkan periode hidup Buya Hamka umur 31 tahun sampai wafat di usia 73 tahun (1981).

Cerita di buku kedua ini beririsan sejarah Indonesia menjelang masuknya tentara Jepang ke Tanah Air, Proklamasi Kemerdekaan dan masa revolusi fisik (1945-1949), gejolak politik domestik tahun 1950-an ketika Hamka menjadi salah seorang anggota Konstituante, era ’60-an yang panas membara, saat Hamka dipenjara selama hampir 2,5 tahun tanpa pengadilan, runtuhnya Orde Lama, hingga munculnya Orde Baru.

Akmal menilai Buya Hamka sebagai salah seorang ulama terpenting, pembentukan Majelis Ulama Indonesia (1975) sekaligus menjadi ketua umum pertama, sekaligus sampai akhir hayatnya di tahun 1981.

Buku Akmar diterbitkan Republika Penerbit dan akan soft launching berupa bincang buku yang disiarkan di kanal IG @bukurepublika pada sore ini. Acara ini sekaligus sebagai keriaan literasi memasuki bulan suci Ramadhan 1443 H.

Serangkai Makna di Mihrab Ulama merupakan karya ke-24 Akmal. Tahun lalu sastrawan berdarah Minangkabau ini mendapat Penghargaan National Writers Award 2021 dari Perkumpulan Penulis Nasional Satupena, bersama sejumlah penulis fiksi dan nonfiksi lainnya.

(jbr/imk)


https://news.detik.com/berita/d-6011499/novel-akmal-nasery-tentang-buya-hamka-terbit-royalti-untuk-warga-mentawai

Media

Tokoh

Partai

Institusi

K / L

BUMN

NGO

Organisasi

Perusahaan

Kab/Kota

Negara

Topik

Kasus

Agama

Brand

Club Sports

Grup Musik

Hewan

Tanaman

Produk

Statement

Fasum

Transportasi